Optimalkan Kecerdasan Anak
Optimalkan Kecerdasan Anak Sejak Dini
Pengembangan kecerdasan anak hendaknya dilakukan sedini mungkin. Hal ini penting guna memberikan start yang baik bagi perkembangan anak selanjutnya. Pertumbuhan setiap jenis sel selalu berbentuk kurva, mulai naik dengan cepat untuk kemudian mencapai puncak (peak) dan turun secara perlahan-lahan. Dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan kecerdasan anak sejak dini, diharapkan potensi kecerdasan anak dapat mencapai puncak performannya. Disamping itu hasil penelitian juga membuktikan bahwa kecerdasan bukan hanya urusan besar kecilnya volume otak, tetapi juga banyak sedikitnya hubungan sel-sel syaraf yang ada di otak. Semakin banyak rangsangan pada otak maka hubungan sel-sel syaraf akan semakin banyak atau anak menjadi semakin cerdas. Permainan yang mendidik, tubuh yang sehat, pengalaman yang bermakna merupakan salah satu contoh bagaimana upaya merangsang hubungan sel-sel syaraf.
Dulu IQ (Intelligence Quotient) dianggap sebagai satu-satunya penentu keberhasilan hidup seseorang. Namun kini IQ saja tak cukup jika tak dibarengi EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), ESQ (Emotional Spiritual Quotient), dan CQ (Creativity Quotient). Dari ciri-ciri kehidupan sosial anak sehari-hari dapat diidentifikasi sejauhmana kecerdasan anak Anda. Dari situ Anda tidak perlu pesimis tetapi tinggal memperbaikinya saja…Teori memperbaikinya mudah…tetapi prakteknya membutuhkan kesabaran, ketlatenan dan harus mau menyisihkan waktu guna memperhatikan, mendampingi dan membimbing anak……
Kecerdasan Akal atau IQ
IQ bisa diukur dengan menggunakan
instrumen tertentu semisal tes. Jika ukurannya 90 ke bawah berarti IQ-nya
dibawah rata-rata; 110 berarti rata-rata; lebih dari 120 adalah diatas
rata-rata; dan diatas 130 berarti superior. Jangan khawatir jika hasil tes
kurang memuaskan karena IQ anak yang kurang tidak selalu disebabkan oleh gen
yang buruk (apalagi cara pengukuran melalui tes yang hal itu hanya pendekatan…),
tetapi ada kemungkinan karena lingkungan yang kurang mendukung.
Stimulasi-stimulasi permainan mendidik dapat digunakan untuk memperbaiki
kecerdasan anak. Disamping itu pemberian gizi yang bagus, terutama protein
nabati dan hewani diyakini dapat meningkatkan kecerdasan anak. Protein dapat
diperoleh dari kelompok padi-padian, kacang-kacangan, daging, hati (lihat pada
orang tua perlu dibatasi tetapi pada anak sangat bermanfaat), telur, susu, keju
dan ikan. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa otak bukanlah organ yang
berdiri sendiri. Jika organ tubuh yang lain sehat, dan itu bisa dilatih melalui
kegiatan olah raga dengan dibarengi asupan gizi makanan yang seimbang,
perkembangan otak juga akan tumbuh optimal. Belum lagi teori mengenai otak kanan
dan otak kiri yang juga harus dirangsang secara seimbang (dilain kesempatan akan
saya bahas tersendiri).
Kecerdasan Emosional
(EQ)
Pada balita cerdas emosi dapat dilihat dari sosialisasinya.
Mereka biasanya bisa berbagi, ramah pada orang, berani menyapa, bisa
berinteraksi, bisa tenggang rasa pada orang lain, punya disiplin diri dan
tanggung jawab, percaya diri dan tidak cepat merasa takut. Anak Anda mengalami
masalah-masalah terkait dengan uraian diatas ? Tenang saja, mungkin Anda salah
dalam memperlakukan anak Anda. Kadang-kadang karena terlalu sayang kita menjadi
over protektif terhadap anak. Dan dalam jangka panjang hal itu akan mengganggu
kondisi psikis anak. Semuanya bisa dilatih dan diperbaiki. Dan kuncinya ada pada
bagaimana Anda memberikan lingkungan sosial yang baik bagi anak.
Kecerdasan Spiritual (SQ)
Ciri anak yang SQ-nya bagus
adalah baik terhadap sesama dan rajin menjalankan ibadah. Saat berinteraksi
dengan sesama dan lingkungan, anak akan cenderung ramah dan baik pada siapapun,
tak pernah membuka kejelekan orang dan mengerti nilai-nilai luhur Sang Pencipta.
Pesan saya jangan hanya diserahkan pada guru ngaji yang Anda datangkan khusus
buat anak Anda….
ESQ (Emotional Spiritual Quotiont)
Kecerdasan ini
merupakan gabungan EQ dan SQ. Contoh yang mudah adalah ketika temannya sakit,
anak suka bilang ”ayo dong kita jenguk” atau pas ada temannya disakiti dia akan
bilang ”jangan sakiti dia to? Khan kasihan..” Juga jika dia punya makanan dia
akan memberikan sebagian pada temannya yang pengen…ESQ harus dijaga dan
dimunculkan. Kalau tidak jika anak beranjak besar dan mengalami hal-hal yang
kompleks, kadang yang muncul hanya EQ-nya: luapan-luapan emosi muncul berapi-api
sehingga timbul pertengkaran-pertengkaran.
CQ (Creativity Quotient)
Kreativitas yang menonjol pada
anak batita adalah kretaivitas imajinasi. Misalnya kardus TV besar dia jadikan
sebagai rumah-rumahan, sebuah balok kayu dijadikan sebagai mobil-mobilan atau
boneka. Anak yang memiliki kreativitas tinggi biasanya cenderung cerewet, mau
tau apa saja, banyak bertanya apa yang dilihatnya dan banyak membantah jika
jawabaannya kurang memuaskan. Disini orang tua diharapkan lebih bersabar dan
tidak membentak anak yang cerewet karena begitu dia takut bertanya maka…. Kalau
bernyanyi kadang-kadang anak memiliki lagu ciptaan sendiri yang terkesan aneh
tapi lucu tentu saja…Juga saat menggambar…dia akan berbuat semau gue dalam
mencoret…. Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan mendikte gambar
anak….misalnya gambar pemandangan itu selalu ada dua buah gunung, matahari dan
ada rumah ditepi jalan. Ini yang menyebabkan kreativitas anak hilang dan saat
besar (sampai pelukis amatiran pun) jika menggambar pemandangan pasti ada gunung
dua….
Sekian dulu tulisan saya…kapan-kapan disambung lagi, atau ada permintaan dari Anda untuk mendahulukan suatu topik….?!
